Meski Mahal, Stok Bahan Pokok di Salatiga Dipastikan Aman selama Ramadhan

SALATIGA, Lingkarjateng.id Kapolres Salatiga AKBP Aryuni Novitasari bersama jajarannya memantau harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional pada awal bulan Ramadhan, Selasa, 12 maret 2024.

“Kami melaksanakan pengecekan harga dan kondisi stok barang kebutuhan pokok langsung ke Pasar Raya I Salatiga. Dari pantauan, stok aman. Hanya harganya ada yang naik,” terang AKBP Aryuni. 

Pihaknya juga menyempatkan berdialog dengan para pedagang terkait stok dan harga bahan pokok di Salatiga seperti beras, minyak goreng, daging sapi, ayam potong, bawang merah dan bawang putih serta bahan pokok lainnya.

“Dari hasil pengecekan dan dialog dengan pedagang untuk harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, ayam potong, bawang merah, cabai dan beberapa komoditi lainnya mengalami kenaikan harga namun ketersediaan tetap mencukupi,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Salatiga menyatakan ketersediaan bahan pokok selama Ramadhan dan lebaran tahun ini aman. Stok cadangan hingga Desember 2023 mencapai 83,023 ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 53 ton beras kualitas medium dan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama enam bulan ke depan. 

Kepala Dinas Pangan dan Peternakan (Dispangtan) Kota Salatiga, Henni Mulyani, menjelaskan stok cadangan pangan Pemkot Salatiga sudah melebih nilai rekomendasi minimal cadangan pangan pemerintah yang dianjurkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas). Yaitu untuk Kota Salatiga sebanyak 19,80 ton.

“Berdasarkan data BPS (2022) jumlah penduduk di Kota Salatiga sebanyak 195.065 jiwa dengan konsumsi beras sebanyak 1,104 kg/ kapita/ minggu,” bebernya.

Menurut Henni, dengan jumlah cadangan sebanyak 53 ton, jika dalam kondisi terburuk tidak ada sumber pangan lain dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Kota Salatiga selama kurang lebih dua dua hari.

“Dalam kasus lain, merujuk pada jumlah petani yang mengalami serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) sebanyak 18 orang, dengan jumlah cadangan pangan 53 ton beras, mampu mencukupi kebutuhan beras selama enam bulan atau hingga masa panen berikutnya,” pungkasnya. (Lingkar Network | Angga Rosa – Lingkarjateng.id)