Ramadhan di Kalibening Salatiga, Warga Giliran Bikin Nasi Ambengan untuk Santri

SALATIGA, Lingkarjateng.id – Tradisi berbagi nasi ambengan semakin menyemarakkan suasana bulan Ramadhan di Kelurahan Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Nasi ambengan dibuat warga secara bergantian.

Nasi ambengan yang dimasak warga terdiri dari nasi lengkap dengan lauk pauk, sayur, dan kerupuk dan lainnya yang ditata dalam tampah dengan alas daun pisang. Adapun menu makannya sesuai dengan kemampuan warga yang mendapat giliran untuk membuat nasi ambengan. 

Lalu saat sore menjelang waktu berbuka puasa, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mubtadiin diminta datang ke rumah warga untuk mengambil nasi ambengan tersebut. Lantas nasi ambengan dibawa ke pondok untuk buka bersama. Tradisi itu dilakukan warga secara ikhlas.

Pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadiin, KH Abda’ Abdul Malik, menuturkan tradisi nasi ambengan merupakan peninggalan sesepuh yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

“Ini sudah berlangsung puluhan tahun. Kapan dimulainya, persisnya saya tidak tahu. Yang jelas pada 1926 silam tradisi ini sudah ada,” jelasnya, Jumat, 15 Maret 2024.

Menurut KH Abda’, setiap hari rukun tetangga (RT) di Kelurahan Kalibening mendapat jatah membuat satu nasi ambengan. Sehingga setiap hari ada 12 nasi ambengan yang dibuat warga secara bergiliran. Setelah waktu berbuka puasa tiba, nasi ambengan tersebut dimakan secara bersama oleh ratusan santri dan warga. 

“Nasi ambengan diambil dari rumah warga setiap sore. Selepas acara pengajian santri mendatangi rumah warga dipandu perwakilan dari lingkungan warga yang mendapatkan giliran membuat nasi ambengan,” ujarnya. 

Sementara itu pengurus Ponpes Hidayatul Mubtadiin, Mahrus Ali Kamal, menceritakan, sejak menuntut ilmu di Ponpes Hidayatul Mubtadiin pada 2011 silam, setiap Ramadhan warga sekitar memberikan nasi ambengan untuk berbuka para santri. Itu sudah menjadi kebiasan dan bagian dari ibadah warga Kalibening selama bulan suci Ramadan.

“Sebagai ucapan terima kasih dan menghormati jadi kami harus mengambilnya. Kemudian jalan sejak berangkat dan pulang tidak boleh sama. Ya begitu tradisinya. Kenapa kok seperti itu, saya sendiri sampai sekarang tidak mengetahuinya,” terangnya.

Menurutnya tradisi ini tidak hanya wujud dari ibadah masyarakat Kalibening saja. Namun tradisi ini juga mempererat tali persaudaraan antara masyarakat dengan para santri.

“Nasi ambengan ini semakin mendekatkan hubungan santri pesantren dengan masyarakat. Dengan berbuka bersama setiap hari, tali persaudaraan semakin erat,” ucapnya. (Lingkar Network | Angga Rosa – Lingkarjateng.id)